FF SHINee / Kamu Aku Itu Satu / Last Part


Haaay haha balik lagi ama FF gaje sayaa :o maaf yak kalo ending ama ceritanya kagak jelas :/ wkwk langsung ajaa , cekidoot.

Veny pov

"Oppa sudah melupakanmu!" Ah kata-kata yeoja tadi terlintas di pikiranku . Apa benar Onew telah melupakanku? Apa dia tak mencintaiku lagi? Iya! Huft, aku bisa benar-benar gilaa!

"Haihaihai.." Ah suara itu, paling si Jjong. Yah, dia adik sepupuku. Memang anaknya manja, hampir setiap 1 bulan sekali dia main kesini.

"Ah Jjong, ada apa?" tanyaku padanya.

"Haha noona, kau ini. Sudah jam berapa ini? Kenapa belum siap-siap? Kudengar ada pameran loo di dekat sini." Aku mengerutkan dahiku.

"Ah kau ini, ayo cepat temani aku jalan-jalan!" Kesal Jjong.

"Yah aku tahu anak kecil!" Balasku sambil berlalu meninggalkannya.

"Idiih, dasar noona."

***

"Cepat noona, aku ingin jalan-jalan!" Teriak Jjong.

"Baik, tunggulah dulu."  Jawabku sambil bersiap-siap. Kamipun berjalan-jalan di dekat pameran lukisan ini. Yah, sebenarnya aku malas, tapi karena tuyul kecil ini memaksa, apa boleh buat.

"Noona, kau tahu hal terindah bagiku apa?" Tanya Jjong tiba-tiba.

"Tak tahu, emang apa?" Tanyaku basa-basi.

"Membuat seluruh dunia bersatu, agar kita tak kesepian sendiri."

"Haha ngaco! Mana mungkin kau bisa menyatukan dunia ini," ledekku.

"Bisa! Aku akan menyatukan hati manusia menjadi satu. Yaitu hati yang selalu kompak dengan fikiran yg bersih dan tenang. Aku ingin memilikinya. Huft..." terlihat wajah Jjong sedih.

"Impian yang luar biasa Jjong, tapi sebelum kau menyatukan hati mereka, satukanlah dahulu hatimu," hiburku.

"Baiklah noona, ah aku mau kesana!" Jjong menunjuk salah satu kios pameran. Yah sebaiknya aku temani dia dahulu.

Veny pov end

Dedek pov

"Oppa, kau masih marah padaku?" tanyaku pada oppa.

"Aku tak tahu!" ketus oppa.

"Tapi oppa, percayalah padaku. Apa yang aku bilang kemarin itu semuanya benar oppa. Aku tidak berbohong padamu,'' kataku meyakinkannya.

"Yah, kuharap kau dapat dipercaya."

"Begitu dong oppa, aku tidak berbohong kok," haha mudah sekali menaklukkan hatimu oppa.

"Oppa, sebelum kau pergi, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Mau kaan?" ajakku.

"Oke baiklah," kami pun berkeliling di sekitar pusat kota. Waa senang sekali rasanya.

"Dek, aku beli minuman dulu. Kau tunggu disini."

"Baik,  oppa," dia pun berlalu ke arah toko minuman itu. Waa indahnya bila tiap hari bersamamu oppa. Akupun duduk dikursi dekat taman itu.

"Hey kau!" teriak seorang yeoja.

"Kau siapa?" tanyaku yang langsung berdiri melihatnya.

'"Aku? Kau tak perlu tahu itu. Tapi, kau tak akan pernah bisa memisahkan Onew dengan Veny! Jadi, berhentilah bermuka dua!" yeoja tadi nyerocos sambil menatapku sinis.

"Haa! Kau siapa? Apa hakmu melarangku? Urusanku itu bukan urusanmu!" bentakku.

"Yah, aku juga malas berurusan denganmu. Sekali lagi aku tegaskan, hentikan kebohonganmu itu!"

Dedek pov end

Onew pov

".. hentikan kebohonganmu itu! Aku tahu semua rencanamu untuk memisahkan Onew dan Veny. Aku tahu semuanya. Masalah surat itu yang kau rusak dengan mencoretnya dengan darah, tentang kau berpura-pura menjadi pacar Onew, dan semuanya! Aku telah mengetahuinya. Sungguh, kau tak lebih seperti.."

"Haha kau pintar sekali noona cantik! Dapat keahlian darimana bisa meramal begitu? Kalau memang aku benar melakukannya, apa ruginya bagimu? Lagian oppa saja tak mempermasalahkannya, kenapa kau yang sewot?" tanya dedek dengan nada tinggi.

"Terserah kau! Tapi bila kau tak mau berterus terang pada mereka, aku yang akan melakukannya!" Nanda menimpali.

"Coba saja bila mereka percaya padamu, yeoja gilaa!" ejek Dedek.

"Hey Dedek, apa itu semua benar?" tanyaku pada Dedek dan seketika wajahnya pucat.

"Ah tidak oppa, orang ini sudah gila! Aku tak kenal dengannya. Jangan percaya padanya oppa, kumohon..." Dedek dengan pucatnya memohon padaku.

"Haha Onew, terserah kau mau percaya denganku atau yeoja gila ini! Tapi aku yakin kau pasti bisa memilih mana yang benar." Nanda memotong ucapan Dedek.

"Dedek, aku tegaskan sekali lagi, apa benar semua yang kalian bicarakan tadi? Jawab aku!" bentakku.

"Yah oppa, semua itu benar. Lalu kau mau apa?! Selama ini kau tak pernah menghiraukan aku. Yang kau hiraukan hanya Veny,Veny, dan Veny! Aku muak mendengar namanya! Aku mencintaimu oppa, sangat sangat mencintaimu! Tak bisakah kau peka dengan perasaanku?" isak Dedek terbata.

"Hah!" aku terduduk lemas mendengar penjelasannya. Veny maafkan aku. "Kau, kau benar-benar sudah gila!" bentakku.

"Aku memang gila oppa. Aku gila karena kau, aku gila karena kau tak pernah membalas cintaku. Aku benar-benar sudah gila!''

"Karena aku sudah membuatmu gila, maafkanlah aku. Tapi, pergilah jauh-jauh dari hidupku! Aku tak mencintaimu, kau tahu hatiku hanya untuk Veny! Tak ada yang lain! Mengerti?!" bentakku sambil berlalu meninggalkannya.

"Sudahlah Onew, lebih baik kau temui Veny dan bicara padanya. Masih ada banyak waktu." Nanda menghiburku.

"Aku tak yakin dia mau memaafkanku. Bicara dengankupun mungkin dia tak mau."

"Tapi, tak ada salahnya kan mencoba?" Nanda meyakinkan.

"Kau benar, aku harus bicara padanya," kami pun langsung pergi ke rumah Veny. Dan di sini, di depan rumah sederhana tapi indah ini, aku akan menjelaskan semuanya. Yah, semuanya.

"Permisi..." aku mengetok pintunya. Pintu dibuka Veny,

"Ah Veny, please jangan ditutup. Aku ingin bicara denganmu," teriakku sambil menahan pintu agar tak ditutup Veny.

"Kau mau bilang apa? Mau bilang kau sudah mendapatkan penggantiku? Iya?!" tanya Veny agak terbata.

"Bukan, jangan percayai omongan Dedek. Dia itu iri padamu. Kumohon percayalah padaku." Aku mencoba meyakinkannya.

"Haha oppa, kau mau mengucapkan selamat tinggal untuknya, ya?' tiba-tiba Dedek datang.

"Hey kau ini apa-apaan! Tak usah panggil aku oppa lagi dan pergi dari hidupku!" bentakku kesal.

"Veny veny, kau lihat? Setelah dia menyakitimu, sekarang dia mengusirku! Haa sungguh namja tak tahu diri!" dedek menghasut Veny.

"Tak usah menghasutnya! Veny kumohon percayalah padaku." Aku meyakinkannya lagi.

"Iya Ven, percayalah pada Onew..." Nanda menimpali.

"Ah diam! Sebaiknya kalian semua pergi dari sini. Kalian hanya membuatku semakin sakit!" Veny pun menutup pintu dengan kasar.

"Veny percayalah, hanya kau orang yang kucintai. Percayalah..." Isakku sambil memukul-mukul pintu.

"Haha mangkanya jangan membuatku sakit!" Dedek berbicara sinis sambil meninggalkan kami.

"Tak usah kembali ke kehidupanku, yeoja gila! Aku muak denganmu!" bentakku. Akupun pergi ke airport dengan Nanda. Yah mungkin ini takdirku. Tak bisa disesali, karena semuanya telah terjadi.

Onew pov end

Veny pov

"Aku harus bagaimana, Minho? Aku benar-benar tak tahu..." tanyaku pada Minho.

"Turuti saja kata hatimu, karena hatimu takkan pernah membohongimu." Minho menyarankanku.

"Tapi aku bingung..."

"Buang saja rasa bingungmu itu, yakinlah pada dirimu sendiri. Semuanya belum terlambat," jawab Minho.

"Benar noona, ini aku menemukannya di depan pintu rumah noona tadi. Sepertinya ini sudah lusuh." Jjong datang sambil memberikan surat yang waktu itu diberikan yeoja itu.

"Lebih baik noona baca saja dulu, mungkin kata hyung Onew tadi benar, orang tadi itu hanya berbohong pada noona." Jjong menyarankan.

"Yah , kau benar Jjong," akupun membaca surat itu. Tess.. Air mataku yang telah lama kutahan akhirnya jatuh seusai membaca surat itu.

"Onew, aku juga mencintaimu. Hiks, kumohon tunggulah aku..." tangisku membaca surat itu.

"Hyung Onew sedang di airport sekarang, setengah jam lagi keberangkatannya." Jjong memberitahu.

"Cepat antar aku kesana!" pintaku pada mereka. Dan kami pun ke airport segera.

Veny pov end

Nanda pov

"Kau yakin, Onew?" tanyaku meyakinkannya.

"Yah, aku sudah yakin. Titip salam buat yang lain," jawab Onew, "dan bila kau bertemu Veny, katakan aku sangatsangatsangat mencintainya..." Onew menambahi.

"Baiklah, hati-hati di jalan." Onew pun masuk ke ruang tunggu.

"Hah..hah.. Noona tunggu!" Teriak seorang namja.

"Onew, hiks tunggu. Aku juga mencintaimu...'' teriak Veny.

Nanda pov end

Veny pov

"Hiks .. Nanda, Onew dimana?" tanyaku pada Nanda.

"Onew sudah masuk dan..." belum sempat Nanda melanjutkan kata-katanya aku sudah terduduk di lantai itu. Aku sudah tak memperdulikan orang-orang di sini melihatku, yang kuperdulikan hanya Onew. Onew, aku mencintaimu.

"Kau jahat Onew, kau bilang kau mencintaiku? Tapi kenapa kau meninggalkanku? Kenapa? Hiks..." aku tersedak.

"Hey, siapa yang meninggalkanmu?" Seorang namja berdiri di depanku dan aigoo Onew!!! Langsung kupeluk dia.

"Hiks kau jahat, kenapa kau pergi tak bilang-bilang?"

"Maafkan aku, tapi saranghae, Veny. Maukah kau menikah denganku?" Pertanyaan Onew barusan sudah berhasil membuat mukaku merah merona (O.Ohaha).

"Ne, aku mau Onew..." jawabku sedikit malu.

"Tapi, aku tetap harus pergi..." sesal Onew.

"Tak bisakah kau urungkan niatmu?" harapku.

"Tunggulah aku 3 tahun lagi Veny, aku janji setelah aku pulang aku akan langsung melamarmu." Jawab Onew meyakinkan.

"Sungguh?" tanyaku.

"Ne!" kamipun berpelukan. Nyaman sekali Onew, aku ingin waktu berhenti agar aku bisa bersamamu.

"Sayang, aku pergi dulu. Minho ini saatnya. Semuanya, aku pamit." Onew berpamitan dengan kami.

"Ne, hati-hati dijalan Onew. Aku akan menunggumu!" Dia pun berjalan ke dalam.

"Nanda saranghae!" Tiba-tiba Minho berteriak. Haa, aku, Nanda dan Jjong langsung menoleh ke arah Minho.

"Apa oppa?" tanya Nanda penasaran.

"Saranghaeyo Ananda Oktaviani!" Minho menegaskan.

"Ah, mukamu seperti udang rebus noona Nanda." Jjong menimpali.

"Heh kau ini, kau lapar kan? Sebaiknya kita makan. Aku yang teraktir!" Ajakku sambil menarik Jjong menjauh dari mereka. Haha aku tak mau merusak moment romantis mereka.

"Ah noona, mengapa kau menarik tanganku?" kesal Jjong.

"Hey! Tak baik mengganggu orang. Apalagi orang itu..."

"Ne, aku juga mencintaimu oppa. Sangatsangat mencintaimu!" Teriak nanda.

"...apalagi orang itu sedang jatuh cinta.. Hahaha" aku menambahi. Nanda, Minho dan Jjong melihatku.

"Hehe jangan begitulah, sebaiknya kita benar-benar harus pergi JJong!" aku menarik tangannya lagi. Tapi kali ini dia menolak.

"Ah aku tak mau, aku ingin menjadi saksi cinta mereka noona. Kan hitung-hitung sebagai pelajaranku bila nanti aku menembak yeojaku." Jjong nyerocos.

"Haha kau harus banyak belajar denganku saeng" Minho meledeknya haha.

"Cintailah aku walaupun aku jahat padamu, cintailah aku dengan hatimu, yaa oppa?" tiba-tiba Nanda memeluk Minho.

"Dengan senang hati, chagi-ya. Aku akan mencintaimu. Karena kau adalah wanita kedua dalam hidupku." jawab Minho.

"Mwo? Kedua? Kesatunya?" tanya Nanda sambil melepaskan pelukannya, haha mukanya lucu.

"Eomma ku lah, hahaha..." canda Minho.

"Haha kau ini, kukira siapa..." kesal Nanda dan kami semua pun tertawa.

**
Onew hati-hati di jalan. Jangan lupa makan, jaga diri baik-baik. Kejar cita-citamu seperti kau mengejarku. Aku akan menunggumu. Dan sekarang, yang harus aku lakukan hanya menunggumu. Menunggu orang yang sangat berarti bagiku.
Saranghae, Lee Jinki!


Endd**

haha gajegaje bangeet kan ? Pusing abisnya gara-gara nilai UAS . Maaf yaa kalo gak bagus endingnya :D

Komentar

Postingan Populer