karena antara tangis dan senyum, kau belajar menghargai hidup.

Karena seseorang pernah berkata; meskipun kita tidak bisa menjadi pensil untuk keindahan hidup orang lain, paling tidak kita bisa menjadi penghapus untuk menghapus kesedihan orang lain. --

Setidaknya, jangan berharap menjadi kertas. Berharap untuk didatangi pensil, diberi sebuah goresan tinta yang entah baik ataupun buruk., lalu memohon kepada penghapus untuk segera menghapus semua yang telah digoreskan oleh pensil, tentunya apabila itu buruk. Karena kertas terlalu sempurna untuk menjadi sehina itu. Yah, karena kertas sangat dibutuhkan dan karena itulah kadang ia merasa bahwa dirinya sangat penting.

Lebih baik menjadi seperti pena, berani menggoreskan apapun, dan apabila itu salah, kau hanya bisa mencoretnya, ataupun menghapusnya dengan menggunakan penghapus pena (tip ex, red) dan itu akan memberikan bekas bahwa goresanmu telah dihapus. Bukankah menarik? Kau berani bertanggung jawab, membenarkan yang salah tanpa menghilangkan jejak bahwa kau pernah salah. 

Itulah hidup, menjadi seorang yang salah adalah sesuatu yang wajar. Karena tak ada yang selalu benar, kecuali Allah SWT. Disaat kau terpuruk, disitulah dirimu dipandang. Bukan dipandang sebagai orang yang hina, namun cobalah buka pikiran lebih luas lagi. Orang yang bijak bukanlah orang yang bicara kata-kata bijak. Tapi mereka adalah orang yang bisa membuktikan kata-kata itu dengan sesuatu yang pasti. Memotivasi orang lain yang termotivasi karena perbuatannya, bukan bujuk rayunya. Orang yang bisa mengendalikan emosinya, bukan terjerumus kedalamnya. Mereka yang bisa mengontrol pikirannya, bukan terkotori olehnya. Yang selalu berkata "aku akan bangkit, tak peduli seberapa dalam aku terjatuh." Mereka yang selalu mempunyai masa depan yang gemilang, punya semangat hidup yang gigih, dan sadar siapa sebenarnya diri mereka di dunia ini. Mereka yang tidak pernah bangga atas amanat, karena mereka menjadikan amanat itu sebagai suatu keindahan dan mengerjakannya selagi masih bisa dikerjakan. Mereka yang selalu berani untuk meminta maaf, walaupun mereka tau, mereka tidak salah. Dan untuk menjadi seperti mereka, kau tak harus menjadi seorang yang besar, punya jabatan tinggi. Cukup jadi diri sendiri, percaya dengan diri sendiri, dan berjanjilah untuk tetap menjadi diri sendiri. Menjadi dirimu yang tulus, sama seperti engkau saat pertama kali bertegur sapa dengan dunia. Jika tangisan adalah caramu menyapa dunia, maka jadikanlah tangisan itu sebagai sebuah tangisan yang tak sembarang orang bisa mendengarnya. Tetaplah menangis seperti saat dimana kau dilahirkan, karena pada saat itu, tangisanmu adalah sesuatu yang sangat dinanti dan karena itulah juga orang-orang yang kau sayangi berbahagia karena tangisanmu itu. Jadi janganlah berpikir sebuah tangisan adalah akhir dari segalanya. Menangislah, karena tak ada seorangpun yang tak pernah menangis. Namun berjanjilah, untuk selalu menepati janjimu tadi, bahwa kau akan selalu bangkit, tak perduli seberapa besar masalahmu. Dan, selalu sertai setiap langkah hidupmu dengan senyuman dan juga do'a. Hwaiting! Karena kemenangan hanya berjarak antara kening dan sajadah😊

dan karena antara tangis dan senyum, kau mendapati dirimu sedang berjuang menjadi pribadi yang lebih baik. Countdown, day-14. Entah aku sekarang ada diposisi apa, sedang menangiskah, tersenyumkah, atau diantaranya? Dan siapa yang tau aku menjadi seperti apa? Pena, penghapus, pensil, atau malah kertas? Masalah waktu. Waktu akan menjawab semuanya. Ah tidak. Waktu hanya memberi jeda, memberi kesempatan untuk berusaha lebih dari ini, agar waktu tidak menyesal pernah memberikan waktunya sampai sejauh itu. Maka berjuanglah, jangan cepat menyerah, apalagi puas terhadap sesuatu. Berjuanglah seakan-akan itu merupakan hal terakhir yang harus kau perjuangkan. Maka kau akan berjuang semaksimal yang kau bisa. 

Terimakasih, untuk semuanya. Seseorang disana. 

Komentar

Postingan Populer