Rabu, 08 April 2015

Panggilan itu...

“Azzim, lo mau kemana? Buru-buru amat sih.” Cinta terus saja menghalangiku untuk pergi.
“Gue tanya lo mau kemana?” ia sekarang menghalangi jalanku dengan kakinya. Ah anak ini, selalu saja buatku tak bisa bebas.
“Ta, aku mau ke toilet. Mau ikut?” Cinta pun menendang kakiku sambil berlalu keluar kelas setelah mendengar jawabanku.
“Dasar bocah!” Ya, gadis tadi adalah adikku. Adik satu-satunya yang kupunya. Ia orang yang sangat ceroboh. Dan cinta selalu saja melakukan hal-hal konyol yang tak pernah kuduga. Pernah suatu ketika, ia mencoba memakai seragam laki-laki ke sekolah. Alhasil seisi sekolah menertawainya. Ia juga tak pernah mau memanggilku dengan sebutan kakak. Padahal ayah dan bunda bersikeras menyuruhnya memanggilku kakak. Ia begitu bukan karena tanpa alasan. Kami lahir ditahun yang sama dan jarak kelahiran kami hanya selang beberapa bulan. Cinta lahir 11 bulan setelah aku lahir. Itulah mengapa ia selalu enggan memanggilku kakak. Aku sendiri tak terlalu mempermasalahkannya. Toh, kami juga selalu dalam angkatan yang sama di sekolah.
***
“Azzim, bunda bilang ntar pulang sekolah kita disuruh ke toko bunda” Cinta duduk didepanku sambil meminum jus melonku.
“Kan ada les tambahan, Ta. Bilang aja sama bunda gak bisa.” Aku masih tetap sibuk baca novel tanpa terlalu menghiraukan cinta.
“Yaudah kalo lo gamau. Gue aja yang pergi.” Cinta pun pergi dari kantin sambil membawa jus melonku.
***
“Azzim, gue pulang duluan ya. Kata bunda kalo udah selesai tambahannya langsung ke toko. Oh ya gue pulang bareng Rio, jadi gausah khawatir.” Cinta langsung pulang tanpa menunggu jawabanku.
“Ta, bareng aku aja. Aku gajadi tambahan,” akupun mengejar cinta yang sudah keluar kelas duluan.
“Ta, tunggu!” teriakku.
“Apaan sih, zZm? Rio udah nunggu tuh, gaenak gue.”
“Bareng aku aja, yuk!” kutarik tangan Cinta walaupun ia terus saja berusaha melepaskannya.
“Udah diem aja. Aku ragu sama rio, barengan aja biar bunda ga khawatir. Udah naik sana!” kamipun pergi ke toko bunda bersama. Walaupun selama perjalanan cinta terus saja memukulku karena menggagalkan rencananya pulang dengan rio. Aku sedikit tak suka dengan rio, ia dikenal playboy.
“Zim, berenti dulu deh,” Cinta menepuk pundakku.
“Emangnya kenapa, Ta?” akupun memberhentikan motorku dipinggir jalan, dekat dengan toko barang pecah belah.
“Bunda tadi pesen minta dibeliin vas bunga katanya,” kami pun turun dan masuk ke toko itu. Setelah memilih beberapa vas bunga, pilihan kami akhirnya jatuh di vas berwarna coklat tua dengan motif abstrak.
“Diisi sama bunga apa ya Zim bagusnya?” tanya Cinta disela-sela pemilihan vas
“Kamu yang cewek kok malah nanya ke aku. Coba telfon bunda, kali aja bunda mau pesen bunganya juga sekalian.”
“Ah iya, yaudah tunggu bentar ya,” sambil mengeluarkan handphone ia memegang vas itu.
“Sini aku aja yang pegang,” aku pun memegang vas coklat itu dan Cinta juga masih memegangnya. Seketika semuanya berubah menjadi bangunan-bangunan yang berbeda.

“Azzim, kita dimana?” tanya Cinta panik.
“Tenang Ta, kamu gabakalan kenapa-kenapa. Ada aku disini,” akupun memegang tangan Cinta dan langsung mencari hp ku ditas.
“Ah sial! Aku lupa bawa hp ta. Coba kamu telfon bunda pake hpmu,” Cinta pun mengeluarkan hpnya.
“Zim, ga ada sinyal disini,” Cinta menggoyang-goyangkan hpnya.
“ini daerah apa sih? Kok kita bisa disini,” Cinta terus saja ketakutan dan hampir menangis.
“Udah lah Ta, nanti juga kita bakal ketemu jalan keluarnya,” aku mencoba menenangkan cinta.
Tiba-tiba seorang anak perempuan sekitar umur 4 tahunan yang memakai gaun lengkap dengan pernak-pernik gaun. Anak perempuan itu menangis sambil memegang sebuah mobilan. Kami pun menghampirinya.
“Adik kecil, kok nangis?” tanyaku pada anak perempuan itu.
“Kakak cantik itu juga nangis, hiks..hiks... mainanku diambil bunda.”
“Kakak cantik ga nangis kok dek, jadi kamu stop dong nangisnya,” bujukku sambil memegang pundaknya.
“Ini mobilan siapa?” Cinta tiba-tiba bertanya. “Ini mirip mobilanku dulu, Zim.” Cinta mengambil mobilan dari anak itu.
“Ta, mobilan begini mah banyak. Kamu tuh ya dari dulu sampe sekarang gaberubah. Selalu heboh kalo liat mobilan.”
“Dek, kalo boleh tau rumah kamu dimana?” Cinta tak menghiraukanku malah langsung menginterogasi anak itu.
“Kakak-kakak ini siapa? Kata bunda aku gaboleh ngobrol sama orang asing,” anak itu pergi meninggalkan kami berdua.
“Zim, coba kita ikutin aja, aku curiga sama dia.” Cinta menarikku mengikuti anak itu. Dan sampailah kami didepan sebuah rumah. Didekat pagar rumah itu ada koran. Akupun mengambil koran itu.
“8 april 2001. Ta, ini koran udah usang banget. Masa iya 2001?” heranku melihat koran terbitan tahun 2001.
“Zim, liat deh beritanya!” Cinta menunjuk salah satu header berita di koran itu.
“Itu bukannya ayah ya?” aku memastikan foto yang ada di koran itu.
“Iya itu ayah!” yakin cinta. “ayah dulu ganteng banget ya waktu mudanya,” lanjut Cinta.
“Iyalah anaknya aja ganteng gini hahahaha,” kamipun tertawa dan tiba-tiba ayah dan bunda keluar dari rumah itu.
“Ayah!” panggil Cinta dan langsung menghampiri ayah. Namun, dibelakang mereka ada dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.
“Kamu siapa?” ayah mengamati cinta yang bengong tak percaya.
“Bunda, ini Cinta. Ayah, ini Cinta. Ini Azzim,” Cinta meyakinkan ayah dan bunda sambil mengeluarkan handphonenya.
“Ini foto kita berempat waktu liburan ke bali tahun lalu.” Cinta menunjukkan walpaper hpnya.
“Aku Cinta, kakak siapa?” anak perempuan kecil tadi menarik tangan bundanya.
“Kak Robby, ayo masuk. Ayah, ayo masuk. Bunda, gak usah didengerin mereka. Nanti kita terlambat datang ke pestanya.” Anak perempuan yang mengaku cinta tadi langsung masuk ke mobil.
“Bunda, ayah, tapi ini beneran Cinta. Tadi bunda telfon Cinta dan suruh Cinta buat ke toko, bunda bunda!” Cinta terus saja memanggil mereka dan mengejar mobil yang telah jauh meninggalkan pekarangan rumah itu. Tapi disitu masih ada seorang anak laki-laki yang tak asing bagiku.
“Kamu siapa?” tanyaku padanya.
“Namaku azzim,” balasnya sambil menyuruh kami masuk kerumah itu.
“Zim, gue beneran takut sekarang. Sebenernya kita ada dimana. Cinta mau pulang!” cinta masih saja parno dengan situasi sekarang.
“Udah masuk dulu aja. Seengganya kita ada dirumah bunda sama ayah,” bujukku dan kamipun masuk kerumah kami dulu. Ternyata kami terlempar kemasa dimana kami masih berusia 4 tahun. Kami terlempar jauh ke 14 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 2001. Azzim kecil, merupakan kembaran Robby, namun Azzim selalu nolak untuk ikut pergi kemana-mana. Ia berbeda dengan Robby dan adiknya, Cinta.

Kringg kringg “Selamat siang dengan kediaman bapak Amri dan ibu Tina dengan 2 anak laki-laki dan satu anak perempuan ini dengan bik Ayem ada yang bisa dibantu,...” bik Ayem  menjawab telfon dan terlihat wajahnya berubah menjadi pucat. “Iya pak, saya segera kesana,” telfon ditutup dan bik Ayem langsung mengajak kami kesuatu tempat dengan taxi. Ternyata kami dibawa kerumah sakit.
“Zim, siapa yang sakit?” Cinta bawel daritadi gaberenti nanya.
“Bik, sebenernya ada apa?” tanyaku pada bik Ayem, rasanya aneh bisa liat bik ayem 14 tahun yang lalu.
“Mobil tuan kecelakaan, den” bik Ayem terbata-bata memberitahukannya.
“What?! Mobil ayah kecelakaan? Terus gimana? Gimana bik?” Cinta menggoyang-goyangkan tubuh bik ayem.
“Kita berdo’a saja ya non,” balas bik Ayem singkat. Kami pun bergegas keruang operasi dan disana sudah ada ayah sama bunda.
“Azzim, sini nak,” bunda menggendong azzim kecil sambil menangis.
“Bunda kenapa?” tanya Azzim kecil
“Robby sama Cinta, didalam nak, sedang operasi.”
“Loh kok ak dioperasi bun?” tanya Cinta terburu-buru. “Bun ceritain!” bentak Cinta.
“Tadi ayah turun mau beli oleh-oleh buat Azzim, tapi dompet ayah tinggal dimobil jadi ayah suruh bunda buat nganterin dompet ayah. Waktu bunda nganterin dompet ayah tiba-tiba ada mobil truk oleng dan menabrak mobil kita. Robby sama Cinta ada didalam mobil.... Maafin ayah... Ini salahh ayah...” ayah yang selama ini aku lihat tegar, kuat, dan satu-satunya orang paling bijaksana menangis. Sakit rasanya melihat ayah menangis. Tapi kok aku gaingat sama sekali dengan kejadian ini. Apa aku terkena penyakit lupa ingatan atau apa.
“Azzim... bunda sayang sama azzim,” isak bunda sambil terus memeluk azzim kecil. Dokter pun keluar dari ruang operasi.
“Anak laki-laki ibu dan bapak tidak bisa diselamatkan. Kami telah berusaha semaksimal yang kami bisa. Namun, benturan di kepalanya membuatnya kehilangan banyak darah.”
“Nggak!!! Robby gak mungkin meninggal dok! Dokter jangan bohong!” bunda histeris mendengar ucapan dokter itu. Aku masih saja bengong tak mengerti dengan situasi ini. Siapa robby? Apa aku punya saudara laki-laki?
“Bagaimana dengan Cinta dok?” ayah bertanya dengan dokter.
“Anak perempuan bapak membutuhkan banyak darah, sekarang sedang disiapkan operasi kedua untuk memperbaiki sel-sel otaknya yang terkena tumburan. Untungnya anak perempuan bapak masih bisa bertahan.” dokter itupun masuk kembali keruang operasi.
“Bunda...” Cinta memeluk bunda yang tersungkur di lantai.
“Cinta...Robby...” isak bunda.
Malamnya, aku dan Cinta tetap di rs menemani Cinta kecil. Sedangkan ayah dan bunda pulang kerumah untuk mengurusi pemakaman Robby. Azzim kecil ada bersama kami.
“Cinta, kamu harus sadar, kalo kamu sadar, aku janji bakalan pinjemin mobil-mobilan aku ke kamu. Aku juga janji gabakalan marah kalo kamu gamau panggil aku kakak. Aku juga janji bakalan jagain kamu. Aku janji akan jadi kakak yang baik seperti robby. Tapi kamu janji sama aku, kamu harus sadar ya!” Azzim kecil membelai rambut cinta kecil. Ah segitu lebaynya kah aku dulu? Aku hanya senyum-senyum melihat tingkahku dulu.
“Apa-apaan tuh, sok bijak lu Zim,” Cinta menyikut sikuku sambil menjulurkan lidahnya.
“Tapi... aku bakalan bahagia bahagia bahagia kalo kamu mau manggil aku kakak, aku selama ini iri sama Robby yang selalu kamu panggil kakak. Hanya karena umur kita Cuma beda 11 bulan, kamu gamau manggil aku kakak. Kan aku juga kakak kamu...” Azzim kecil melanjutkan kalimatnya. Akupun melihat cinta yang sedang tersenyum melihat kejadian 14 tahun yang lalu.
“Zim, gue mau nyatain sesuatu nih,” Cinta menarikku keluar ruangan.
“Apaan sih, Ta?” tanyaku sambil melepaskan genggaman tangan cinta.
“Mulai sekarang gue bakalan manggil lo dengan sebutan kakak. Kakak azzim, ah gak, gue panggil lo abang aja. Okee!” Cinta menyenggol sikuku dan tiba-tiba memelukku. “Gue tuh sayangnya pake banget sama lo bang. Gue selama ini gamanggil lo dengan sebutan kakak karena lo gapernah marah kalo gue panggil nama. Coba lo bilang dari dulu kalo lo pengen banget dipanggil kakak, kan gue bakalan manggil lo dengan sebutan kakak,” Cinta masih memelukku erat.
“Aku udah bilang kok ke kamu Ta, tadi buktinya,” aku membalas pelukan cinta.
“Aku tau kok kalo kamu tuh sayangnya banget ke aku. Cuma kamunya aja yang gapernah nunjukinnya, iya kan?” ejekku pada Cinta.
“Eh hahahha baidewei, gimana caranya kita balik ke masa kini bang?” tanya Cinta sambil melepaskan pelukannya.
***
Kringg kringg
“AZZIM!!!!!” pekik cinta yang membuat telingaku sakit
“Apaan sih, Ta? Eh kita kok masih di toko ini?” tanyaku heran.
“Emangnya mau dimana? Di kebon jeruk? Nih, vas nya pegangi tolong. Aku mau telfon bunda dulu.” Cinta memberikan vas bunga itu. Ah apa tadi itu hanya ilusiku saja?
“Ta, kita daritadi disini aja ya? Gakemana-mana gitu?”
“Ngomong apasih Zim? Sakit ya lo?” Cinta menempelkan tangannya ke dahiku.
“Ah Cuma perasaan aku aja berarti. Yaudah ayo bayar vas nya kita langsung ke toko bunda. Tiba-tiba aku kangen akut sama bunda,” ajakku pada cinta. Kamipun pergi ketoko bunda.
“Bang, diem-diem aja ya. Jangan kasih tau bunda tentang kejadian tadi,” Cinta membuka pembicaraan di perjalanan.
“Kejadian apa?” tanyaku heran.
“Duh, abang Azzimku sayang, lupa sama janjinya dulu? Katanya mau..” aku langsung menyetop motor mendadak dan menatap cinta.
“Jadi yang tadi itu bukan khayalanku aja, Ta?” mataku melotot tak percaya.
“Udah cepet jalan, ntar bunda beneran khawatir sama kita.” Cinta tersenyum lalu menepuk pundakku.
***
“Bundaaa!” sesampainya di toko bunda kami langsung memeluk bunda.
“Kami sayang bunda sama ayah,” hampir berbarengan kami mengatakannya.
“Bun, abang Azzim ternyata orangnya romantis ya bun,” ejek cinta sambil menjulurkan lidahnya.
“Loh emangnya kenapa? Eh tadi kamu manggil abang Azzim? Wah ada apa nih?” senyum bunda usil.
Kami hanya tersenyum lalu tertawa bersama.

*****


well done. sebenernya udah niat buat ikutan #RabuMenulis spesial author mbak Tyas. Tapi mau dikatakan apalagi hehehe ketiduran disaat acara dilangsungkan. Alhasil jadi nulis cerita gaje ini aja seenggaknya ikutan euforia #RabuMenulis aja yaa wkwk selamat membaca dan maaf kalo ceritanya absurd, namanya juga belajar :)

Minggu, 29 Maret 2015

karena antara tangis dan senyum, kau belajar menghargai hidup.

Karena seseorang pernah berkata; meskipun kita tidak bisa menjadi pensil untuk keindahan hidup orang lain, paling tidak kita bisa menjadi penghapus untuk menghapus kesedihan orang lain. --

Setidaknya, jangan berharap menjadi kertas. Berharap untuk didatangi pensil, diberi sebuah goresan tinta yang entah baik ataupun buruk., lalu memohon kepada penghapus untuk segera menghapus semua yang telah digoreskan oleh pensil, tentunya apabila itu buruk. Karena kertas terlalu sempurna untuk menjadi sehina itu. Yah, karena kertas sangat dibutuhkan dan karena itulah kadang ia merasa bahwa dirinya sangat penting.

Lebih baik menjadi seperti pena, berani menggoreskan apapun, dan apabila itu salah, kau hanya bisa mencoretnya, ataupun menghapusnya dengan menggunakan penghapus pena (tip ex, red) dan itu akan memberikan bekas bahwa goresanmu telah dihapus. Bukankah menarik? Kau berani bertanggung jawab, membenarkan yang salah tanpa menghilangkan jejak bahwa kau pernah salah. 

Itulah hidup, menjadi seorang yang salah adalah sesuatu yang wajar. Karena tak ada yang selalu benar, kecuali Allah SWT. Disaat kau terpuruk, disitulah dirimu dipandang. Bukan dipandang sebagai orang yang hina, namun cobalah buka pikiran lebih luas lagi. Orang yang bijak bukanlah orang yang bicara kata-kata bijak. Tapi mereka adalah orang yang bisa membuktikan kata-kata itu dengan sesuatu yang pasti. Memotivasi orang lain yang termotivasi karena perbuatannya, bukan bujuk rayunya. Orang yang bisa mengendalikan emosinya, bukan terjerumus kedalamnya. Mereka yang bisa mengontrol pikirannya, bukan terkotori olehnya. Yang selalu berkata "aku akan bangkit, tak peduli seberapa dalam aku terjatuh." Mereka yang selalu mempunyai masa depan yang gemilang, punya semangat hidup yang gigih, dan sadar siapa sebenarnya diri mereka di dunia ini. Mereka yang tidak pernah bangga atas amanat, karena mereka menjadikan amanat itu sebagai suatu keindahan dan mengerjakannya selagi masih bisa dikerjakan. Mereka yang selalu berani untuk meminta maaf, walaupun mereka tau, mereka tidak salah. Dan untuk menjadi seperti mereka, kau tak harus menjadi seorang yang besar, punya jabatan tinggi. Cukup jadi diri sendiri, percaya dengan diri sendiri, dan berjanjilah untuk tetap menjadi diri sendiri. Menjadi dirimu yang tulus, sama seperti engkau saat pertama kali bertegur sapa dengan dunia. Jika tangisan adalah caramu menyapa dunia, maka jadikanlah tangisan itu sebagai sebuah tangisan yang tak sembarang orang bisa mendengarnya. Tetaplah menangis seperti saat dimana kau dilahirkan, karena pada saat itu, tangisanmu adalah sesuatu yang sangat dinanti dan karena itulah juga orang-orang yang kau sayangi berbahagia karena tangisanmu itu. Jadi janganlah berpikir sebuah tangisan adalah akhir dari segalanya. Menangislah, karena tak ada seorangpun yang tak pernah menangis. Namun berjanjilah, untuk selalu menepati janjimu tadi, bahwa kau akan selalu bangkit, tak perduli seberapa besar masalahmu. Dan, selalu sertai setiap langkah hidupmu dengan senyuman dan juga do'a. Hwaiting! Karena kemenangan hanya berjarak antara kening dan sajadah😊

dan karena antara tangis dan senyum, kau mendapati dirimu sedang berjuang menjadi pribadi yang lebih baik. Countdown, day-14. Entah aku sekarang ada diposisi apa, sedang menangiskah, tersenyumkah, atau diantaranya? Dan siapa yang tau aku menjadi seperti apa? Pena, penghapus, pensil, atau malah kertas? Masalah waktu. Waktu akan menjawab semuanya. Ah tidak. Waktu hanya memberi jeda, memberi kesempatan untuk berusaha lebih dari ini, agar waktu tidak menyesal pernah memberikan waktunya sampai sejauh itu. Maka berjuanglah, jangan cepat menyerah, apalagi puas terhadap sesuatu. Berjuanglah seakan-akan itu merupakan hal terakhir yang harus kau perjuangkan. Maka kau akan berjuang semaksimal yang kau bisa. 

Terimakasih, untuk semuanya. Seseorang disana. 

Rabu, 04 Maret 2015

Kreativitas Tanpa Batas

Monstrolite06. Gak bisa deskripsiin mereka pokoknya. Hampir 2 tahun sama-sama. Udah gak ada kata-kata lagi buat mereka. Ibarat hujan. Mereka terkadang terlihat menyebalkan, namun sejatinya mereka menyejukkan.

H-8 UAS, H-19 UP, H-39 UN. Satukan tekad, semangat!

Cita-cita yang sudah kalian gantungkan selama ini, harap serta do’a kalian tak akan sia-sia. Jangan menyerah untuk meraihnya. Karena kemenangan kita hanya berjarak antara kening dan sajadah.

Yakinlah, 2 tahun terakhir, akan menjadi ingatan indah di memori kita masing-masing. Semoga suatu saat nanti, saya bisa bilang kesemua orang, kalau pemimpin-pemimpin bangsa ini adalah teman satu kelas saya sewaktu SMA. Semoga orangtua kita masing-masing bangga punya anak seperti kita. Yah, tak ada ucapan terimakasih yang lebih indah daripada do’a tulus seseorang kepada temannya.

Monstro, Kreativitas Tanpa Batas!

salam hangat dari absen 28 :)

Rabu, 31 Desember 2014

dua kosong satu empat

2014. Well done. 365pages finished. What an unexpected year ever. Tahun yang penuh dengan cerita-cerita indah, dan juga sedih, of course. 2014. 365 hari penuh teka teki. 

Januari 2014, jadi siswi kelas xi, jadi senior yang sedang sibuk-sibuknya berorganisasi. 

Februari. Road to acara besar pertama kami. Pertama kali jadi panitia sesungguhnya. Sibuk. Ah super sibuk. 2 hari. Sabtu-Minggu. DDM. Seharian jadi setrika. Bolak-balik ruang ddm-konsumsi. Dapet bagian ngedata pendonor, nyamperin satu-persatu pendonor yang udah ngedonorin darah. Sampe pada pendonor terakhir. Yang sebenernya udah ditunggu-tunggu. Ah, sudahlah, terlalu indah untuk dikenang. 

Maret. Sibuk-sibuknya MID SMT4. 

April. Bisa dibilang bulan terpenting di tahun ini. Acara besar kedua kami. Yap. 26-27 April 2014. Gabisa diceritain deh. Mengubah hidup gue banget. 

Mei, Juni, Juli, Agustus. Bulan yang sarat akan teka teki. Yang sampai sekarang tak pernah bisa dipecahkan. Ah iya, pisah juga. Hehe hari-hari berat dilalui. Mencoba terbiasa tanpa hadir... ah sudahlah. Lagi pula, teka teki hidup ada didepan mata. Ah mata. Salah satu benda yang tak bisa dipisahkan dengan tahun ini. Gatau deh, seneng atau kesel sama mata. 

September. 17 tahun. Udah gede. Sweet kok. Punya temen-temen yang pengertian. They love me so. Diucapin kok. Untuk yang kedua. Hehe. 2 hari selang. Indah. Banget malah. Bahagia. Gak kebayang deh. Tapi ya gitu. Kesalahan terbesar dihidup kali. Ah sudahlah. 17 tahun yang tak terlupakan. Setidaknya. 

Oktober, November, Desember. 3 bulan yang bisa dibilang sulit. Iya sulit. Biasa, udah kelas xii. Hehe. Tapi setidaknya, banyak pelajaran hidup selama tiga bulan itu. Pelajaran dimana, kesetiaan itu adalah hal yang tak bisa dibeli. Hal yang pada akhirnya akan mengalahkan segalanya. Lagi lagi, biarkanlah. Biarkan apakah kesetiaan yang akan menang, atau malah teka teki itu yang akan terungkap. Entahlah. 2014 sudah meninggalkan begitu banyak kesan, baik dan buruk. 

Terimakasih. Atau maaf. Ah tidak. Terimakasih banyak. Salam rindu dari calon maba 2015 aamiin.

Sabtu, 04 Oktober 2014

masa sekolah..

Palembang, 30 September 2014. 

Backsound: Sahabat Kecil-Ipank
*ruang kelas XII IPA 3 SMAN 6 PLG*

Halo, teman.
Tak terasa sudah hampir berakhir kesempatan kita untuk tetap merasakan bagaimana rasanya disebut sebagai siswa/siswi.
Sudah hampir 12 tahun kita dikenal sebagai siswa/siswi. 
Tentu sudah banyak sekali suka duka selama 12 tahun ini.
Masa-masa sekolah dasar, 6 tahun kita memakai seragam putih merah.
Masa-masa sekolah menengah pertama, 3 tahun kita memakai seragam putih biru.
Masa-masa sekolah menengah atas, hampir 3 tahun kita memakai seragam putih abu.
Sungguh, beberapa tahun lagi, kita akan sangat merindukan masa-masa itu, saat kita hanya bisa mengenang masa-masa indah itu.
Hanya bisa mengenang, tanpa bisa mengulang.
Namun itulah hidup, terus berjalan tanpa bisa kembali ke masa lalu.
Apa yang kita lakukan sekarang, merupakan gambaran hasil yg akan kita nikmati kelak.

Aku sangat bangga bisa menjadi warga negara Indonesia.
Negeri yang kaya akan sumber daya ini harus kita jaga dan lestarikan.
Kita, sebagai pemimpin bangsa kelak harus bisa mentorehkan sesuatu yang baik untuk bangsa dan negara.
12 tahun bukanlah waktu yang singkat, teman!
Sudah beratus bahkan beribu juta satuan waktu telah kita lewati.
Setiap hari pergi ke sekolah, bertemu teman, bercanda gurau, bermain, bersitegang, bercengkrama, dan semua hal indah lainnya.
Mungkin kita sering mengeluh akan tugas dan pr yang diberikan guru kita, namun sadarkah kalian bahwa suatu saat kita akan merindukan itu semua?
Saat kita bekerja nanti, tidak akan ada lagi momen bersama-sama mengerjakan pr disekolah, kena hukum satu kelas, bernyanyi, tertawa, menangis, dan semua yang kita lakukan di kelas.
Semua itu akan sangat indah bila nanti kita sudah mengenangnya.
Kurang dari satu tahun lagi, kita, angkatan 2015, akan menyelesaikan tugas kita sebagai siwa/i.
Jangan pernah lupakan semua kenangan indah kita selama menjadi peserta didik.
Terkhusus untuk semua teman, sahabat, dan orang yang telah bersedia menemaniku selama kurang lebih 12 tahun ini, tak ada yang bisa kulakukan selain berdo'a agar kita kelak bisa berkumpul bersama lagi dan mengenang masa-masa indah kita dengan kesuksesan masing-masing. 2015 bisa! FOKUS UN! SEMOGA KITA ANGKATAN 2015 MASUK PTN/PTK/PTS SESUAI BAKAT DAN KEMAMPUAN AAMIIN. AKU SAYANG KALIAN, TEMAN! 

*terimakasih juga buat:
Teman-teman SDN 131 Palembang'09
teman-teman SDN 1 Cipriangan, Sukabumi
teman-teman SMPN 46 Palembang'12
-7.5 - A-demoMinc -9.6
Teman-teman SMAN 6 Palembang'15
Adhigana caturprajaaht!
Oxygen - Monstrolite 
Paranampang - Stella Luminosa
adhanissa
Semua senior dan junior sd, smp, dan sma
semua bapak/ibu guru yang telah mengajar dan mendidik saya sampai sekarang

Rencana Allah itu indah, teman!

sincerely, absen 28 monstrolite06!

Terimakasih.


Senin, 29 September 2014

Rahasia Hati

Palembang, 29 Sept 2014. 22.50

Jauh ribuan kilometer
Telah kaki ini tapaki
Jauh jutaan satuan waktu
Telah jiwa ini lalui

Aku, hanyalah seonggok daging berjalan
Berjalan melewati lika liku kehidupan
Berjalan memgarungi derasnya ombak lautan
Berjalan melawan arus, tanpa menghiraukan ancaman

Aku adalah seorang pemburu
Pemburu sesuatu yang tak menentu
Sesuatu yang tak kasat mata
dan juga tak bisa diraba

Sesuatu itulah yang membuatku tegar
Menjadikanku sosok pribadi yang tak mudah meneteskan butir-butir mutiara

Tak mudah mengeluh, dan berputus asa

Sangat berat untuk mengakui
Bahwa dibalik itu semua
Aku menyimpan beribu rahasia
Rahasia tentang hati...

Namun biarlah
Biarlah kaki ini terus menapaki
Kemanapun dan seberapa jauhpun ia ingin pergi
Biarlah jiwa yang memilih
Jalan mana yang harus ia lalui

Dan biarlah
Biarlah rahasia itu tetap menjadi rahasia
Sampai sang pemeran utama rahasia itu sadar
Kalau ia sudah menjadi rahasia besar dalam hidup ini

Karena hati tak pernah salah
Karena hati tak pernah dusta
Karena hati, aku bisa mengenalmu
Sebagai sosok yang berarti

Sekarang, atau nanti
Mungkin kaki ini akan lelah bertapak
Mungkin jiwa ini akan jenuh
nnamun hati tak akan pernah mati
Karena cinta tak akan pernah berujung
Sebelum menemukan rumahnya
dan cinta tau dimana rumahnya berada
di suatu tempat yang sering kau sebut...
Hati.

Salam rindu, matahari(mu).

Sabtu, 27 September 2014

17 tahun, bukan waktu yang cepat.

Hidup memang tak pernah berjalan mulus.
Pernahkah kau berpikir bahwa kehidupan memberikan banyak sekali pelajaran?
Ada suka sudah pasti ada duka.
Dan semua itu hanya Allah yang mengaturnya.

Aku sendiri hanyalah sebutir debu halus yang tak ada apa-apanya.
Aku hanya seonggok daging berjalan yg mencari akhir dari perjalanan.
Namun siapa sangka, aku menemukan banyak sekali keajaiban dibalik perjalanan itu.

Tersenyum, satu hal yang sepele mungkin, tapi tidak bagiku.
Senyuman mempunyai energi yang besar bagi setiap orang yang memaknainya, tak terkecuali aku.
Dengan tersenyum, kita bisa merasakan bahwa hidup bukan sekedar lelucon belaka.
Bahwa hidup mengajarkan kita arti menghargai.
Bahwa hidup memberikan apa-apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Bahwa hidup tak selamanya hanya sebatas materi.
Bahwa hidup layak untuk dijalani.

Kegembiraan dan kesedihan adalah beberapa dari sekelumit tirai kehidupan.
Ada yang menganggapnya positif, dan ada pula yang menganggap sebaliknya.
Hidup bukan sekedar mencari kesenangan.
Hidup bukan sekedar makan, minum dan bernafas.
Hidup bukan sekedar mencari kebahagiaan.
Tapi hidup menjadi satu-satunya jalan menuju kehidupan lain.
Kehidupan yang kekal.
Kehidupan yang sering kita sebut akhirat.

27 september 2014. 04.15 wib. Rb Dona Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Aku, seonggok daging yang masih dan akan selalu mencari jalan menuju ke kehidupan yang kekal itu, genap berusia 17 tahun. Usia yang tidak bisa dikatakan muda namun terlalu tua untuk dikatakan tua. Berkurang sudah jatah waktuku untuk terus mengarungi jalan menuju kehidupan akhirat dan berkurang juga kesempatanku untuk terus berjalan walau ombak yg besar menjadi penghalang.

Semua yang telah ku alami, semua yang telah aku miliki, semuanya sampai aku berusia 17 tahun ini, tak akan pernah kulupakan. Karena kenangan tetaplah menjadi kengangan. Dan masa depan menjadi tujuan utama untuk tetap mengarungi jalan yang tak tahu dimana akhirnya. 

Terimakasih mama, telah bersusah payah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, mendidik, serta menyayangi dan mencintai ku sepenuh hati, dan aku berharap suatu saat nanti, aku bisa menjadi sepertimu, memperlakukan anak-anakku kelak sehebat kau memeperlakukanku sampai aku menjadi seperti sekarang.

Terimakasih papa, telah merelakan tubuhmu bekerja keras, telah merelakan waktumu untuk memberikan kecukupan untukku, telah mengajarkan bagaimana cara hidup yang sebenarnya, telah menjadi super hero dalam hidupku. Sungguh, engkau lelaki terhebat yang pernah kutemui, dan aku berharap suatu saat nanti, pemilik tulang rusukku ini akan bisa sehebat dirimu, bisa menjadi imam yang selalu menuntunku untuk tetap berada dijalan-Nya.

Terimakasih kakek nenek, telah mendidik dan membesarkan mama dan papa, kalian istimewa.

Terimakasih wak, om, tante, telah menjadi saudara/i mama dan papa yang senantiasa mendukung mereka dalam kondisi apapun, terimakasih telah menjadi wak, om dan tante terhebatku!

Terimakasih mas Qhory, kakak laki-lakiku satu-satunya. Tak ada kata yang dapat kutulis untuk menggambarkan betapa hebatnya dirimu. Terimakasih telah menjagaku, telah menjadi contoh yang baik untukku, telah rela berkorban demiku. I love you to the much!

Terimakasih dek Yuyun, adik perempuanku satu-satunya. Terimakasih telah menjadi orang yang selalu menyayangiku dengan caramu. Terimakasih telah menjadi adik yang berbakti padaku.

Terimakasih abang Wira, adik laki-lakiku satu-satunya. Terimakasih telah menjadi pemecah keheningan disaat keluarga kecil ini hening, terimakasih telah hadir ditengah-tengah kami dan menjadi kita, terimakasih telah menyayangiku.

Terimakasih saudara/i sepupuku, kalian luar biasa. Terimakasih telah menjadi teman, saudara, dan terkadang musuh yang menyebalkan, namun aku tau semua itu kalian lakukan karena kalian sayang padaku dan begitu pula sebaliknya.

Terimakasih keponakan-keponakanku, tante bangga sama kalian!

Terimakasih bapak/ibu guru yang telah mengajar dan mendidikku dari tk sampai aku menjadi siswi paling akhir di jenjang sekolah. 

Terimakasih sahabat-sahabatku yang sudah kuanggap saudara sendiri. Kalian jiwa ragaku, payung yg selalu melindungiku dari percikan air hujan, serta rela berkorban demiku. Aku sangat menyayangi kalian. Nalar, Adl, demo, jojoba, jombloers, oxygen, monstrolite, paranampang, stella luminosa, adhanissa, adhigana tetrapradjaa, ibm, serta seluruh senior dan junior yang telah memberikan banyak kenangan indah dalam hidupku. Kalian sangat berarti, tak akan terganti.

Terimakasih untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidup ini, terimakasih.

Terimakasih yaAllah, Engkau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk merasakan nikmat hidup, dan terlahir sebagai aku yang berada di sekeliling orang-orang yang sangat menyayangiku. Aku yakin skenario-Mu adalah yang terbaik dan semoga semua cita-cita dan harapanku terwujud melalui cara-Mu. 

Dan... Terimakasih kamu. It's always been you. Pemilik tulang rusukku. Sampai bertemu beberapa tahun lagi.

Palembang, 27 September 2014. 23.50 WIB

Selasa, 11 Februari 2014

32 Pemimpin Bangsanya Oxy -4-

Absen 24. beci
Nurbaiti Melistia Akhmadi. Oni yang satu ini memprakarsai awal kemunculan kata ucul di oxy :3 Cewek yang bakalan ke bulan (aamiin) ini penyuka hujan juga nih ehem ehem :3 master matematik! woaaa anak pcta nasional nihh B-)

Absen 25. vanka
Praditya Vankabo. Oki yang satu ini anak osis looh :) ehem 29nya nanda :3 hhheee Bapak negaranya oxy nih B-) orangnya baik, dan lucuuu.

Absen 26. watikkk
Rahmawati Aulia. Oni yang satu ini nih penyebar virus alay di oxy -bersama nanda tentunya- hohohoh. orangnya ucul, bocaaaahhhh dan cantik :) skrg udah punya andro baru nih~

Absen 27. petakk
Ridho Ilham Renaldo. Oki yang satu ini waketos loooh sekarang B-). Panggilannya banyak banget, mulai dari tukang, petak, klimis, deelel. orangnya baik, dak biso diem, friendly :)

Absen 28. openg
Siti Khalisha. Oni yang satu ini punya panggilan sayang dari oxy, yaitu openg :3 orangnya baik, bebebnya nanda nih hhee, dulu sih pendiem, tapi semenjak negara api menyerang, openg terkena virus alaynya oxy :)

Absen 29. ulikk
 Siti Rizky Fitrah Aulia Muttaqin. Oni yang punya nama lengkap paling panjang di oxy ini modusannya pak bangka island hhhee :3 jago bingit bahasa arab, kalo buat ppt itu weowe :) orangnya baik, ucul, dan friendly.

Absen 30.trayek
Tria Meilisa. Oni yang satu ini ketupel paskib looh :) wakil bendaharanya oxy nih, orangnya baik, penyabar, friendly, dan penyuka winnie the pooh :3

Absen 31. vioo
Vionalita Prima Putri. Oni yang satu ini ucul nan menggemaskan. seorang kpopers sejati, pernah sebangku sama dehe dan juga beci. kacamatanya lucuuuuuu :3

Absen 32. ucup
Yusuf Hadi Anugrah. Oki satu ini punya suara falset yang ucul. woaaa pernah bersitegang dengan bu 'n' nih :) hobby banget nginjek sepatu, orangnya baik dan seorang pembalap professional (?) yg ado penyakit jantung jangan dibonceng ucup hhhee

well yeah!!!! 32 Pemimpin Bangsanya Oxy udah selesaiiii. wanna more? visit at oxy:3 SALAM UCUL DARI OXY :3





32 Pemimpin Bangsanya Oxy -3-

Absen 17. vialay
Livia Margareta. Oni yang satu ini punya ketawa yang ehem serem. Orangnya baik, ucul katanya hhee dan lagi istiqomah looh. Bendaharanya Oxy nih B-)

Absen 18. coco
M. Fitra Rwananda P. Oki yang satu ini dulunya waketos dan sekarang wakeroh loooh :) Sering dipanggil aceng, coco, dll (?) Orangnya asik, baik, dan uji kabar lg nyari istri saleha hhhee.

Absen 19. acid
M. Rasyid Muchlis. Oki satu ini orangnya nyolot tapi baik kok. Anak motor nih B-). Trio bareng abdi dan Yudha :)

Absen 20. abangyud
M. Yudha Pratama Fajrin. Oki kece satu ini orangnya super duper lucu. Modus banget sama masay tapi sekarang udah berpaling u,u. ga ada yudha ga asik :)

Absen 21. masay
Masayu Vidya. Oni yang satu ini punya hidung yang mancung begete. Orangnya baik, cantik, pinter pula :3 hmmm ketuleran alaynya Oxy juga nih hhhee :)

Absen 22. mayouts
Mayadita Idzni Shabrina. Oni yang satu ini punya ciri khas cara pake jilbab yang selalu ditekuk kebawah (?) Cewek berkacamata ini hobby banget baca novel horror :o orangnya baik, pinter dan friendly :3 ketuanya Maya And The Gank hhooo

Absen 23. fairy:3
Nilasari Fitriani. Oni yang satu ini adalahh saya sendiri hehehe. Penyuka warna cokelat, baru mendalami dunia novel, punya cita-cita jadi dokter anak aamiin, loves rain, suka denger lagu, suka makan, suka tidur deelel :3





to be continued on this post Oki-Oni-Part-4





32 Pemimpin Bangsanya Oxy -2-

Absen 9. beber
Berlianita Putri Irani. Oni satu ini punya tulisan yang super duper rapi looooh. Anak aurora nih :) Ketuleran alaynya NandaWaci :o

Absen 10. dhea
Dhea Widya A.N. Oni yang jago pake banget ngegambar ini orangnya pendiem. Baik loooh dan tinggi hehehe :) Oni Dhea ini anak saseru, dan bakat jadi desainer.

Absen 11. dwilup
Dwi Lupita Sari. Oni yang satu ini ucul looh :) Anak ips kece nih B-). Soulmatenya openg, tapi kelas XI udah jarang kumpul hehehe

Absen 12. ungil
Eka Zumar Sastiani Jakfar. Oni satu ini sering dipanggil ungil sama oxy :3 selalu kena flu pas pelajaran buk Rahma, ngegas mulu kalo ngomong dan orangnya moodyan.

Absen 13. hadi
Fakhran Rahmat Al-Hadi. Oki satu ini punya segudang cita-cita. Mulai dari gubernur BI sampai Menkeu RI aamiin. Cowok berjiwa IPS tapi masuk IPA ini, selalu bilang "diem sekarang' kalo oxy lagi ribut :3 ga ada hadbon ga rame :)

Absen 14. yamek
Farhan Abdallah. Oki kece satu ini punya panggilan YaMek di sekolah. Pemilik IQ tertinggi seangkatan ini orangnya gabisa ngomong 's' hehehe. Kocak ba to the nget :) hobbynya main tab di kelas, tapi pas disuruh maju kedepan bisa *prokprok.

Absen 15. feby
Feby Nurhadiati. Oni yang satu ini ucul looh, sering banget nyubit dan cubitannya itu sakit ._. hhhee punya suara yang waw bingit, orangnya baik :)

Absen 16. gince
Ghina Dwi Aqila. Oni macho satu ini udah agak feminim sekarang hhhhe. Anak basket nih B-) Uji kabar nak jadi arsitek terkenal aamiin. Bakat gambar juga nih, Kpopers bung :)



to be continued on this post Oki-Oni-Part-3




Ultah nih ultah niye~

Teruntuk kamu, yang hari ini genap berusia dua-puluh-dua tahun. How's there? Semoga urusan per-skripsi-an diperlancar dan segera meng...