hanya mengasah kemampuan menulis yang mulai berdebušŸ˜

Aku sudah berusaha, tapi tetap saja gagal.
Aku sudah melakukan segala cara, tetap saja yang kudapati hanya rasa sesal.
Aku sudah menyibukkan diri, namun mengapa dirimu masih menjadi rumah terakhirku.
Apa memang sudah takdirnya, suatu saat kita bersama?


Jujur aku lelah, aku dan dirimu bukanlah teman yang bila bertemu bisa bertegur sapa dan bercerita semuanya sambil tertawa.
Aku dan dirimu hanya bisa memainkan tatapan mata, sama-sama ego untuk memulai walau hanya seutas salam.
Aku dan dirimu berkenalan secara tidak sengaja, tanpa ada yang menyebutkan nama.
Masih teringat, bagaimana dirimu menjadi candu dalam kehidupanku.


Aku ingin berterima kasih, karena dirimu dulu hadir di saat aku sedang membutuhkan seorang yang bisa membuatku lupa akan dirinya.
Akupun tak menyangka bisa jatuh sedalam ini terhadapmu, melebihi saat aku jatuh padanya.
Sudah hampir dua tahun, tatapan sendumu itu menghipnotisku.
Jujur, tak ada yang bisa menaklukan hati kecil ini hanya dengan sebuah tatapan sepertimu.
Mungkin karena itulah, sampai sekarangpun, rumahku tetap ada pada mata indahmu.
Apa jatuh cinta serumit itu? Sesakit itu? Semenyedihkan itu?


Sekuat apapun aku berusaha berpaling, semakin dalam pula aku jatuh.
Jatuh dalam semua romantika indah cinta yang mungkin dirimupun tak pernah menganggapnya ada.
Namun biarlah, cukuplah aku dan Tuhanku yang tahu betapa aku merindukan rumahku itu.
Selalu, aku rindu. Tatapan sendumu. 


Semangat untuk kita. Aku hanya bisa berdoa semoga dirimu bisa mengejar dan mewujudkan impianmu, dan akupun akan berjuang untuk impianku, lalu nanti kita bisa dengan bahagia mewujudkan mimpi kita. 



Set, saengil chukkae hamnida!


Salam rindu,

Mataharimu.

Komentar

Postingan Populer