Goresan Tinta Tentangnya

Kupersembahkan khusus untuk seseorang yang selalu menempati ruang kecil yang sering kusebut, hati.
               

Dia, sang penyejuk mata, penghanyut rasa.
Dia, yang punya tujuan yang sama denganku, mungkin.
Dia, yang menjadi mata, yang punya tatapan sendu, tatapan yang membuat hati ini luluh.
Dia, yang mengubah luka ini menjadi suatu hal yang lebih rumit.
Dia, yang tak pernah meruntuhkan keegoisannya.
Dia, yang berada di posisi yang sama deganku, sama-sama punya perasaan luka.
Dia, yang diam-diam hadir di ruang kecil yang sangat sensitif, mengusir penghuni lamanya, namun dia hanya berdiam, menyisakan kesunyian, dan perasaan hampa.
Dia, yang dulu asing, dan sampai sekarang tetap pada predikat asing.
Dia, yang punya jalannya sendiri, berada di koridor yang berbeda denganku, tidak ada kata terucap, tidak ada salam tersampaikan, dan tidak ada harap yg bisa digantungkan.
Dia, yang punya rahasianya sendiri. 
Dan aku? Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang berharap bisa menjadi rahasianya.
Dia, dengan rahasianya, dan aku, dengan harapan semu. Bersabar mungkin cara terbaik untukku agar bisa sedikit demi sedikit meruntuhkan dinding kokoh yang sekarang masih membentengi keegoisannya itu. Mungkin ini hanya masalah waktu, usaha, penantian, harap, dan do'a. Pergi untuk kembali, mungkin tidak sekarang, tapi di satuan waktu mendatang. Hati ini akan selalu untuknya.
Dia, mentari pagiku, dan rembulan malamku.
Dia, hujan sejukku, dan pelangi indahku.
Dia, sunrise, juga sunset istimewaku.
Dia, pemilik tulang rusukku.
Dia, masa depanku.


Palembang, 11102014. 11.00 WIB.


Komentar

Postingan Populer